Luhut sebut Prabowo Subianto sangat rasional

Polres Tanjungpinang siagakan 249 personel jelang 25 Mei 2019
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan pernyataan di lingkungan istana kepresidenan Jakarta pada Senin (22/4). (Desca Lidya Natalia)
Jakarta (ANTARA) - Sebagai utusan calon presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menilai bahwa calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto adalah orang yang sangat rasional.

"Saya kenal Pak Prabowo itu orang yang sangat rasional dan bisa diajak berpikir jernih, jadi bukan pemimpin yang tidak bisa diajak berpikir, kata Luhut di lingkungan istana kepresidenan Jakarta, Senin.

Luhut adalah orang yang diutus Presiden Joko Widodo untuk berbicara dengan Prabowo Subianto. Rencananya pertemuan itu dilangsungkan pada Minggu (21/4) namun tidak dapat berlangsung karena Juru Bicara BPN Andre Rosiade mengatakan Prabowo sedang fokus memantau penghitungan suara.

"Bagaimanapun Pak Prabowo itu harus menjadi bagian sejarah dari Indonesia karena Pak Prabowo itu kan seorang pemimpin juga, beliau aset bangsa, beliau patriot juga, patriotismnya tidak bisa dimungkiri, kepeduliannya terhadap republik ini juga tidak bisa dimungkiri, sebenarnya saya mau (bicara) itu saja, kalau yang lain-lain berkembang pembicaraan kami lah," jelas Luhut.

Luhut menilai bahwa Prabowo perlu meninggalkan warisan bagi bangsa Indonesia dengan menghormati keputusan KPU.

"Saya betul-betul ingin Pak Prabowo 'legacy-nya' (warisan) diingat di Indonesia sebagai pemimpin yang turut mematangkan demokrasi di Indonesia dan menghormati apapun yang diputuskan oleh KPU," tegas Luhut.

Apalagi pada era digital saat ini seluruh data tidak dapat dihilangkan atau muncul begitu saja.

"Kita semua menghormati demokrasi kita dan konstitusi kita. Kalau kita yang senior ini tidak menghormati, legacy kita apa? itu saja. Saya juga menghimbau teman-teman atau tokoh-tokoh elit supaya jernih melihat agar tidak emosional, karena kita tidak bisa bohongi digital itu tidak bisa dibohongi, siapapun dia mengatakan begini begitu 'at the end' orang akan lihat data digital yang tidak bisa dibohongi," jelas Luhut.

Namun Luhut tidak ingin menuduing salah satu pihak yang memberikan informasi keliru kepada Prabowo.

"Saya tidak ingin menyalah-nyalahkan, kita menahan diri lah tidak menyalah-nyalahkan. Biar menunggu hasil (perhitungan KPU) tanggal 22 Mei. Harus menghormati konstitusi karenahampir 30 negara lebih mengakui bahwa pilpres, pileg ini dilakukan dengan jurdil, saya ulangi ya dengan jurdil," ungkap Luhut.

Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sendiri sudah tiga kali mendeklarasikan kemenangan pada 17-18 April lalu. Deklarasi itu menurut Prabowo berdasarkan hasil "real count" yang dilakukan oleh tim internal BPN.

Prabowo pada Kamis (18/4) menyatakan bahwa ia dan Sandiaga Uno mendeklarasikan kemenangan sebagai Presiden dan wakil Presiden tahun 2019-2024 berdasarkan lebih dari 62 persen 'real count' dari formulir C1 yang telah rekapitulasi," kata Prabowo Subianto.

Deklarasi ini disampaikan hanya selang beberapa menit setelah capres Joko Widodo mengatakan bahwa ia dan Ma'ruf Amin diunggulkan menang dalam pilpres 2019 berdasarkan hasil hitung cepat dari 12 lembaga survei dengan prosentase perolehan suara pasangan Jokowi-Amin diperkirakan sebesar 54,5 persen sementara Prabowo-Sandi sebesar 45,5 persen.

Pada Jumat (19/4) Prabowo yang didampingi Amien Rais, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, dan sejumlah tokoh bahkan melakukan selametan dan menegaskan bahwa mereka tidak percaya lembaga survei. Bahkan, Prabowo menyuruh lembaga survei pindah ke Antartika.

Baca juga: Luhut minta Prabowo tidak terprovokasi

Baca juga: Luhut buka isi pembicaraan per telepon dengan Prabowo Subianto
Pewarta:
Editor: Joko Susilo
Copyright © ANTARA 2019
Kerukunan Ustadz/Ustadzah Pemerhati Pemilu dukung KPU Sebelumnya

Kerukunan Ustadz/Ustadzah Pemerhati Pemilu dukung KPU

Polri-TNI Jember perketat "sweeping" warga ikut aksi "people power" Selanjutnya

Polri-TNI Jember perketat "sweeping" warga ikut aksi "people power"