counter

Psikolog: Caleg stres karena harapan terlampau tinggi

Tingkat partisipasi Pemilu 2019 tertinggi setelah reformasi
Seorang bocah berada di dekat papan informasi capres dan caleg yang ditempel di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 11 Kelurahan Palupi, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (17/4/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.

Jakarta (ANTARA) - Psikolog politik Hamdi Moelek mengatakan calon legislatif yang bertarung dalam pemilihan umum 2019 berpotensi mengalami stres karena spekulasi yang terlalu tinggi.

"Kalau memang spekulasinya terlalu tinggi, enggak punya uang, terlalu yakin menang, terus minjam uang ke mana-mana, punya utang menumpuk karena mungkin ekspektasinya enggak realistis akan mengalami gangguan jiwa," ujar Hamdi kepada Antara dihubungi lewat sambungan telepon di Jakarta, Kamis.

Hamdi mengatakan, gangguan jiwa cenderung tidak akan terjadi pada calon legislatif yang memiliki banyak uang yang memang berencana untuk menghabiskan uang.

Baca juga: Dahlan temui caleg gagal yang ingin jual ginjal

Menurut Hamdi, caleg yang memiliki modal sosial besar cenderung memiliki modal kapital yang kecil. Begitu pula sebaliknya.

"Harus realistis lah," kata dia. "Kalau sudah punya modal sosial di Dapil (Daerah Pemilihan), modal kecil. Tapi, kalau orang enggak punya modal sosial, pasti jor-joran, dan tidak realistis targetnya."

Popularitas bukan jaminan

Sementara itu, bagi selebritas yang masuk ke ranah politik, menurutnya akan cenderung lebih percaya diri untuk mendapat lebih banyak suara. Meskipun, menurut Hamdi, popularitas bukan jaminan.

"Karena calon legislatif begitu banyak, pemilih cenderung melihat partai pengusungnya. Dengan begitu, partai lama yang diuntungkan," kata Hamdi.

"Dari awal, mereka yang "berspekulasi" lewat jalur partai baru seharusnya tidak berekspektasi terlalu besar," tambah dia.

Tujuh partai politik terancam tidak lolos parlemen setelah perolehan suara mereka masih berada di bawah empat persen, menurut hitung cepat yang dilakukan oleh lembaga Indo Barometer, Kamis siang.

Baca juga: Indo Barometer: Tujuh partai terancam tak lolos ke parlemen

Ketujuh partai tersebut adalah Partai Persatuan Indonesia (Perindo) dengan suara 2,67 persen, Partai Berkarya yang meraih 2,12 persen suara, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebesar 2,07 persen, dan Partai Hanura dengan kumpulan suara 1,64 persen.

Tiga urutan terbawah ditempati Partai Bulan Bintang (PBB) dengan perolehan suara 0,84 persen, Partai Garuda sebanyak 0,57 persen dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dengan capaian suara 0,27 persen.

Perolehan suara sementara ketujuh partai tersebut tidak memenuhi ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4 persen.

Baca juga: RS Jiwa HB Saanin Padang siap layani caleg alami gangguan jiwa

Baca juga: Caleg gagal jangan sampai ke RS Jiwa

Empat Parpol tak peroleh kursi DPRD Banten

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019
Flash- Jokowi – Ma’ruf bertemu parpol pengusung Sebelumnya

Flash- Jokowi – Ma’ruf bertemu parpol pengusung

Seorang anggota DPRD Jember terpilih naik ojek untuk hadiri pelantikan Selanjutnya

Seorang anggota DPRD Jember terpilih naik ojek untuk hadiri pelantikan