counter

Isu harga karet dan populisme Islam buat Prabowo unggul di Sumsel

Calon independen minimal didukung 24 ribu calon pemilih
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS) Alip Dian Pratama (Foto: ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/19)
Palembang (ANTARA) - Kemenengatan pasangan Calon Presiden-Wapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Provinsi Sumatera Selatan terdorong dua faktor, yakni isu harga karet dan populisme Islam, kata pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS) Alip Dian Pratama.

"Masyarakat di Sumsel mayoritas bekerja di bidang agraris, jadi ketika Jokowi dianggap gagal mengangkat harga komoditas karet, sawit dan lainnya, maka masyarakat memberikan 'sanksi' dengan mengumpulkan suara ke Prabowo," ujar Alip, di Palembang, Rabu.

Sedangkan faktor populisme Islam mulai merembet ke Sumsel sejak muncul aksi 212 dan 411 di Jakarta, kemudian terus berlanjut hingga Pilpres 2019 terutama di Kota Palembang dengan dorongan tokoh-tokoh agama.

"Bisa dilihat ketika kampanye Jokowi dan Prabowo di Palembang, nampak perbedaannya secara kuantitas sangat jauh," ujarnya pula.

Selain itu, faktor dukungan kepala daerah yang mayoritas mendukung Jokowi juga dianggap belum bisa mendongkrak perolehan suara Jokowi, sebab kepala daerah tersinyalir lebih fokus membesarkan suara partai dibanding mengoptimalkan dukungan capres.

Namun, sebagian masyarakat masih memilih Jokowi karena ada bukti nyata pembangunan selama pemerintahannya, apalagi Sumsel termasuk daerah yang mendapat porsi pembangunan infrastruktur paling banyak karena menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

"Kehadiran Jokowi pada berbagai peresmian infrastruktur seperti LRT Palembang dan jalan tol membuat masyarakat masih memberikan kepercayaan kepada Jokowi dan itulah yang tidak dimiliki Prabowo, yakni bukti nyata, ya itu wajar karena Prabowo memang belum punya wewenang kekuasaan," demikian Alip Dian.

Meski hitungan versi web KPU masih sementara, namun berdasarkan hitung cepat SMRC, Indikator, dan Charta Politika, pasangan Prabowo-Sandiaga unggul di Sumsel dengan rata-rata raihan 60 persen suara.

Berdasarkan data dari situs resmi KPU https://pemilu2019.kpu.go.id, Rabu pukul 21.15 WIB, data yang masuk untuk Provinsi Sumatera Selatan baru 10.406 dari 25.326 TPS atau 41,08821 persen.

Prabowo-Sandiago meraih 60,14 persen dengan perolehan 1.200.746 suara, sementara Jokowi-Ma'ruf meraih 39,86 persen dengan perolehan 795.930 suara.

Prabowo-Sandi sementara unggul di 16 kabupaten/kota di Sumsel, sedangkan Jokowi-Ma'ruf Amin hanya unggul di Kabupaten Banyuasin dengan selisih 10.579 suara.

Persentase perhitungan suara akan terus berubah karena banyak TPS di kabupaten/kota belum melaporkan suara keseluruhan, namun beberapa daerah sudah hampir menyelesaikan laporannya.

KPK cecar 24 pertanyaan ke Sekjen PDIP

Pewarta:
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2019
KPU: Tujuh petugas KPPS dan dua Linmas di Lampung meninggal dunia Sebelumnya

KPU: Tujuh petugas KPPS dan dua Linmas di Lampung meninggal dunia

Deklarasi Santri Dukung Pemilukada Damai Selanjutnya

Deklarasi Santri Dukung Pemilukada Damai