Penyebar hoaks "Brimob China" ditangkap, terancam hukuman enam tahun

BSSN tangani 28,8 juta serangan server KPU
Arsip Sejumlah petugas Brimob dari beberapa polda diperbantukan menggantikan anggota lainnya guna menghalau massa aksi di sekitar Gedung Bawaslu RI Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). (ANTARA News/Ricky Prayoga)
Jakarta (ANTARA) - Kepolisian Republik Indonesia menangkap penyebar konten hoaks ke beberapa grup whatsApp yang menyebutkan bahwa dalam penanganan aksi unjuk rasa 21-21 Mei 2019 polisi menerjunkan aparat "Brimob China".

"Tersangka diyakini telah melakukan perbuatan menyebarkan informasi dan menimbulkan rasa kebencian," kata Kasubdit II Cyber Bareskrim Polri Kombes Ricky Naldo Chairul saat konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Tersangka Said Djamaludin Abidin yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, terancam hukuman enam tahun penjara.

Kepolisian menangkap tersangka yang berselfie di belakang tiga polisi yang dia duga sebagai polisi dari negara lain dan menyebarkan informasi tersebut di media sosial.

Atas perbuatannya tersangka dijatuhi ancaman hukuman enam tahun penjara dan denda yang ditentukan dalam UUD.

Sementara itu, tersangka, Said Jamaludin Abidin, saat dihadirkan dalam keterangan pers itu, mengakui  khilaf menyebarkan berita hoaks dan meminta maaf.

Sebelumnya, beredar kabar di media sosial saat seorang demonstran berfoto bersama anggota brimob. Pada penjelasan di foto tersebut dikatakan bahwa anggota Brimob tersebut diimpor. Sebab, tidak bisa berbahasa Indonesia dan bermata sipit.
Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2019
Gugatan Prabowo diputuskan MK maksimum 14 hari Sebelumnya

Gugatan Prabowo diputuskan MK maksimum 14 hari

Bawaslu tidak pernah terima laporan keberpihakan intelijen dan polisi Selanjutnya

Bawaslu tidak pernah terima laporan keberpihakan intelijen dan polisi