Merajut kembali persatuan demi Indonesia

Peneliti UGM: Penyebab kematian petugas KPPS bersifat alamiah
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto (kanan) saling berpelukan disela menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018 di di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8). ANTARA FOTO/Kumparan/INASGOC/Aditia Noviansyah/pras/18.
Jakarta (ANTARA) - Pemilihan umum 2019 di Indonesia termasuk paling rumit serta menakjubkan di dunia karena skalanya yang besar dan dilaksanakan dalam satu hari saja.

Meskipun demikian, pelaksanaan Pemilu 2019 berjalan sukses, lancar, dan aman.

Hingar-bingar pesta demokrasi lima tahunan itu telah usai seiring Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelesaikan rekapitulasi Pemilu serentak 2019 pada Selasa (21/5) dini hari

Hasil seluruh rekapitulasi 34 provinsi dan 130 Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) itu menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin keluar sebagai pemenang dalam hajatan politik lima tahun ini.

Penghitungan suara menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul 85.607.362 juta suara atau 55,50 persen dari total suara nasional, sedangkan penantang mereka, yaitu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh 68.650.239 juta suara atau 44,50 persen dari total suara nasional.

Seiring diketahuinya pemenang Pemilu 2019, segala perbedaan pilihan politik yang menimbulkan huru-hara dan konflik harus segera diakhiri.

Pemilu seyogyanya menjadi agenda demokrasi untuk menyatukan tujuan bersama dalam upaya membangun masyarakat yang lebih sejahtera.

Karena itu, Pemilu harus menjadi jembatan bersama untuk merekatkan persaudaraan demi kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, sebagai masyarakat yang dewasa dalam politik, rakyat Indonesia tidak boleh menodai makna suci pemilu karena perbedaan atas pilihan politik yang memicu konflik sosial dan disintegrasi bangsa.

Presiden terpilih harus bisa merajut dan mempersatukan kembali Indonesia, ungkap Ketua MPR RI Zulkifli Hasan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor pada Rabu.

Bagi Zulkifli Hasan, Indonesia menang kalau mampu menjahit "Merah Putih".

Usai perbedaan pilihan politik dalam masa pemilu, lanjut dia, pemimpin Indonesia harus mampu merekatkan persatuan bangsa.

Dia menjelaskan upaya merajut itu harus dengan cara yang damai melalui dialog.

"Dengan cara damai,melalui dialog. Tentu silaturahmi seperti ini. Kalau ketemu, pasti ada solusi jalan keluar," ujar dia.

Zulkifli juga menyampaikan pemilu adalah perhelatan yang harus diselesaikan sesuai konstitusi.

Jika terdapat persoalan dalam proses Pemilu, Ketua MPR RI mengajak masyarakat menyelesaikannya dengan cara damai melalui Mahkamah Konstitusional.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengatakan Pemilu adalah satu kegiatan dari perjalanan negara Indonesia yang masih panjang.

Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Jokowi menegaskan ia punya kewajiban untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan.

Karena itu, Presiden mengatakan segala perselisihan maupun sengketa Pemilu dapat diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi (MK) dan menghargai langkah Prabowo-Sandi yang telah membawa sengketa pilpres itu ke MK.

Ia meyakini bahwa hakim di MK akan memutuskan sesuai dengan fakta-fakta yang ada.

Jokowi juga menyebutkan saat ini bulan Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang penuh ampunan, penuh kasih sayang untuk semua saling menghormati, saling menghargai.

"Kewajiban kita juga sebagai umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, berbuat baik," ujar dia

Jokowi juga menyebutkan saat ini situasi masih terkendali sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

Presiden juga membuka diri kepada siapapun untuk bekerja sama membangun dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi tidak akan memberikan toleransi kepada siapapun yang mengganggu keamanan negara terutama para perusuh.

Ia menyebutkan pemerintah tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak NKRI.

Di tengah gejolak pascapilpres yang menyebabkan terjadinya demonstrasi di Jakarta dan sejumlah daerah, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk tetap tenang mengingat banyak kepentingan terlibat dalam aksi tersebut.

Ia mengungkapkan kekecewaan dalam sebuah kontestasi wajar terjadi, namun semua masalah pasti ada jalan keluarnya bila diselesaikan lewat dialog.

Oleh karena itu, JK berharap pihak-pihak yang kecewa terhadap hasil Pemilu 2019 sebaiknya membawa masalah itu ke ranah hukum melalui pengajuan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU).

"Apa pun masalahnya, kita bisa bicarakan, dialogkan, kita bisa melalui proses hukum kelembagaan semuanya, kita selesaikan secara cepat. Dan aparat pemerintah, polisi, tentara dan yang lainnya tentu selalu berusaha memberikan solusi yang cukup baik," ujar dia.

Terkait jatuhnya korban demonstrasi akibat tembakan dari aparat kepolisian, Wapres mengatakan hal itu dilakukan dengan alasan untuk menjaga keamanan.

Sementara itu, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengimbau seluruh pejabat publik, kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warganet untuk menghindari segala bentuk kekerasan yang dapat memprovokasi keadaan di bulan Ramadhan.

"Kami meminta peristiwa kekerasan tadi subuh yang telah mencoreng martabat Indonesia tidak terjadi lagi. Bila terjadi lagi, maka kami sangat kuatir rajutan dan anyaman kebangsaan kita bisa rusak dan sulit dirangkai kembali," jelas Prabowo.

Selanjutnya, dia meminta aparat keamanan untuk terus melindungi rakyat dan tidak melukai apalagi menembak peserta demonstrasi.

"Saya tegaskan yang masih mau mendengar saya. Hindari kekerasan fisik. Berlakulah sopan dan santun. Hormati pejabat penegak hukum. Jangan sekali-kali menggunakan kekerasan," kata Prabowo.

Ia juga mengingatkan TNI dan Polri yang masih aktif bahwa segala perlengkapannya dibiayai oleh rakyat sehingga tidak sepantasnya aparat melakukan kekerasan pada rakyat.

Menanggapi kerusuhan di Jakarta, Ulama kondang Jawa Barat Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym meminta kepada seluruh pihak untuk menghentikan tindakan yang bisa memecah belah bangsa.

"Hentikan, mohon hentikan segala kekerasan dari pihak manapun. Kekerasan, kerusuhan hanya akan menimbulkan masalah yang lebih buruk, kerusakan dan kehancuran bagi negeri ini," kata Aa Gym.

Ia mengatakan sesama saudara dan anak bangsa harus saling menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang ia sebut sebagai rumah. Apalagi saat ini masih dalam suasana bulan Ramadhan.

"Sungguh memilukan telah terjadi kerusuhan di antara kita, di negeri yang kita cintai, di bulan suci," kata dia.

Dia mengimbau kepada seluruh pihak untuk menahan diri dengan berpikir secara jernih dalam menanggapi keputusan KPU.

Selain itu dia mengatakan bahwa masyarakat jangan terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.

"Jangan pernah terprovokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang menginginkan negeri ini hancur-hancuran," kata dia.

Sementara itu kepada para tokoh-tokoh masyarakat, Aa Gym berharap agar mereka bisa berembuk untuk meredam ketegangan sebelum menelan korban jiwa lebih banyak.

"Saudaraku, kita selesaikan bersama Insya Allah dengan cara-cara yang benar, dalam koridor benar, konstitusional," ujar dia.

Seruan para pemimpin negeri untuk menjadikan pemilu menjadi ajang penuh cinta dan kedamaian adalah kepastian untuk merajut kembali persatuan antarkelompok yang saling membenci dan berkonflik hanya karena pilihan politik yang berbeda.

Baca juga: Roundup - Ucapan selamat pemimpin dunia untuk Jokowi

Baca juga: Negara sahabat apresiasi keterbukaan Indonesia tentang situasi Jakarta


Baca juga: Roundup - Kedubes di Jakarta imbau warganya jauhi lokasi demonstrasi




 

Peneliti UGM: Petugas KPPS meninggal dunia secara alamiah

Pewarta:
Editor: Azizah Fitriyanti
Copyright © ANTARA 2019
FKMP dukung aparat Polri/TNI jaga kamtibmas terkait pemilu Sebelumnya

FKMP dukung aparat Polri/TNI jaga kamtibmas terkait pemilu

Amnesty soroti oknum polisi lakukan penyiksaan tak diproses hukum Selanjutnya

Amnesty soroti oknum polisi lakukan penyiksaan tak diproses hukum