counter

Pokja PPLN baru terima 75 dokumen pemilu luar negeri

Calon independen minimal didukung 24 ribu calon pemilih
Arsip Ketua Kelompok Kerja Panitia Pemilu Luar Negeri (Pokja PPLN) Wajid Fauzi ketika hadir dalam rapat pleno terbuka rekapitulasi daftar pemilih pemilu 2019 di KPU RI, Jakarta, Senin (8/4/2019). (Dewa Wiguna)
Jakarta (ANTARA) - Kelompok Kerja Panitia Pemilu Luar Negeri (Pokja PPLN) mengungkapkan, mereka baru menerima sebanyak 75 dokumen dari total 130 PPLN.

"Ada 15 dokumen yang siap untuk direkapitulasi hari ini," kata Ketua Pokja PPLN, Wajid Fauzi, dalam rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara nasional Pemilu 2019 luar negeri di Kantor KPU, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu,

15 dokumen PPLN yang siap direkapitulasi, menurut Wajid fauzi, berasal dari Tunis, Karachi, Praha, Hanoi, Yangon, Rabat, New Delhi, Helsinki, Wina, Moskow, Khartoum, dan Pyong Yang, Tashkent.

"Pada hari ini panitia pengawas yang sudah hadir dari Melbourne dan Washington," ujarnya.

Menurut dia, Pokja PPLN terus bekerja untuk memastikan dokumen yang siap direkapitulasi hingga sore ini.

Sementara itu, Ketua KPU, Arief Budiman, mengatakan, PPLN yang diundang untuk hadir ke Indonesia tidak semua bisa hadir.

"Untuk negara yang PPLN tidak datang hasilnya akan dibacakan oleh Pokja PPLN karena memang tidak semua perwakilan negara datang hari ini," kata dia.

Rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara nasional Pemilu 2019 luar negeri hingga kini masih berlangsung dengan diwarnai beberapa kali adu argumen di antara peserta rapat.

Mereka terdiri dari Bawaslu, saksi dari partai politik dan pasangan calon masing-masing peserta pemilu, serta pemantau pemilu.

Bawaslu sebut partisipasi rendah jadi indeks kerawanan pemilu paling dominan

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2019
Bupati Sidoarjo ajak masyarakat kembali rukun pascapemilu Sebelumnya

Bupati Sidoarjo ajak masyarakat kembali rukun pascapemilu

Deklarasi Santri Dukung Pemilukada Damai Selanjutnya

Deklarasi Santri Dukung Pemilukada Damai