Rachel Maryam: popularitas tak cukup untuk gaet pemilih

TKN Jokowi-Maruf teruskan iklan sosialisasi nomor rekening
Rachel Maryam (FOTO ANTARA/Agus Bebeng)
Jakarta (ANTARA News) - Politisi Rachel Maryam menilai para bakal calon anggota legislatif terutama yang berasal dari kalangan figur publik Tanah Air tak cukup bermodalkan popularitas untuk penggaet suara pemilih. 

Dia tak menampik mereka punya punya peluang besar melenggang ke Senayan dan peluang ini bisa lebih besar bila modal polularitas yang mereka miliki dikonversi menjadi elektabilitas. 

"Karena populer saja tidak cukup untuk dapat meyakinkan pemilih untuk memilih. Diperlukan komunikasi politik yang baik dan strategi lapangan yang tepat," tutur anggota Komisi I DPR RI periode 2014-2019 dari partai Gerindra itu kepada ANTARA News, Rabu. 

Rachel mengungkapkan, salah satu teknik yang bisa para caleg ini tempuh demi menggaet elektabilitas ini adalah melakukan blusukan. 

"Teknik paling sederhana dan enggak pernah salah untuk orang-orang yang bermodal popularitas agar dapat meraih elektabilitas adalah dengan terjun langsung menemui calon konstituen (blusukan)," tutur dia. 

Kemudian, berbicara soal kemampuan para bakal caleg dari kalangan figur publik pada Pemilu tahun depan, Rachel memilih tak meragu. 

"Saya rasa semua orang punya kapabilitas yang sama untuk menjadi dewan. Semua orang kan punya kelebihan dan kekuatan pikiran di bidangnya masing-masing. Dan DPR dalah representasi dari banyak elemen masyarakat. Perlu ada banyak warna yang muncul," kata dia. 

Belum lama ini partai-partai politik mengumumkan sederet nama bakal calon dari kalangan selebiriti yang akan mereka usung pada Pemilu 2019. Dari sejumlah nama, ada nama-nama baru seperti Giring Nidji, Katon Bagaskara, Tommy Kurniawan, Donny Kusuma dan lainnya. 

 
Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2018
Katon diharapkan tambah kursi PDIP dari Yogyakarta Sebelumnya

Katon diharapkan tambah kursi PDIP dari Yogyakarta

Generasi milenial dalam integritas politik bangsa Selanjutnya

Generasi milenial dalam integritas politik bangsa